Friday, January 8, 2016

By : Nila Afila



***
            “Kisah ini berasal dari aku, tentang aku yang telah memilih dunia ku ketika aku keluar dari zona aman ku, tentang aku yang berani melangkah walau terlihat mustahil temukan arah, tentang aku yang berani menatap walau seakan melihat  mimpi yang telah lenyap, tapi inilah aku yang ingin menunjukkan kepada dunia tentang aku”
            Kisah ini adalah kisah seorang mahasiswi yang terlahir dalam dua kondisi yang bebeda, dari ayah yang berasal dari kalangan kyai yang sangat kaya dan ibu yang berasal dari kalangan masyarakat ekonomi rendah. Sejak kecil dia meniti hidup bersama ibunya dengan penuh keringat untuk sekedar mendapatkan ilmu, tanpa sedikitpun peran seorang ayah. Dia yang berani melangkah mencari ilmu di bangku sekolah untuk sekedar meraih cita-citanya menjadi seorang pengusaha sukses. Dia adalah Nila Afila, yang memulai hidup dengan bermodal keberanian sejak ditempa di sekolah dasar negeri yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
            Nila adalah seorang anak yang rajin belajar, hobinya adalah menulis dan membaca cerita, telah banyak cerita yang dia buat untuk menemani kehidupannya. Sejak duduk di sekolah dasar, dia menyadari bahwa dia sedang ada diantara dua kondisi, mengikuti keinginan ibunya untuk melanjutkan sekolah umum demi memperbaiki ekonomi keluarga, namun juga tetap dapat menjaga kehormatan ayahnya, walaupun dia mengetahui bahwa ayahnya sama sekali tidak peduli padanya. Dia juga menyadari bahwa dia akan terus mendapatkan hinaan dari ayahnya seperti yang selalu dia terima karena seorang perempuan dikalangan kyai tidak layak ditempa ilmu umum.
            “Anak yang hina” adalah sebutan yang selalu dilontarkan oleh ayahnya, padahal ayahnya tidak mengetahui bagaimana kerasnya perjuangan nila menjalani hidup dengan sebutan “munafik” karena mengenakan hijab di sekolah umum, demi menjaga kehormatan ayahnya. Penghinaan itu tak lantas menyurutkan bara semangat dalam dirinya untuk terus belajar demi cita-citanya menjadi seorang pengusaha. Dia juga tak pernah berfikir untuk membenci ayahnya, melainkan mendoakan ayahnya agar mau mendukung keputusannya yang dipandang tabu dan hina ini.
            Nila sebenarnya adalah anak yang sangat pandai. Namun, dia selalu mendapatkan nilai yang kecil ketika ujian nasional telah tiba, mulai dari SD,SMP, hingga SMA nilainya sangat jelek. Dia beruntung diterima di SMP favorit kerena kala itu masih diberlakukan tes tulis untuk menyaring siswa dan belum diberlakukan sistem online yang hanya melihat nilai ujian nasional, akan tetapi dia tak dapat diterima di SMA favorit karena tes tulis untuk menyaring siswa tidak diberlakukan lagi, melainkan telah menggunakan sistem online.
            Karena kegagalannya untuk masuk di SMA favorit, dia selalu di hina oleh tetangga-tetangga bahkan saudara-saudaranya sendiri. Banyak yang mengatakan bahwa dia telah menerima kutukan karena tidak taat pada perintah ayahnya yang mulia, dan hinaan serta cacian itu tidak hanya berlangsung sehari, melainkan berhari-hari selama dia bersekolah di SMA yang disebut sekolah pinggiran karena tidak begitu terkenal dan letaknya yang berada di pinggir kota.
            Sejak saat itu nila menjadi pribadi yang sangat pendiam, dalam dirinya terdapat perasaan marah, benci, sedih dan semua perasaan jengkel karena celaan-celaan mereka. Akan tetapi, perasaannya tak pernah dia campur adukkan dengan tekadnya untuk mencari ilmu, “seseorang yang benar-benar mencari ilmu adalah dia yang tak pernah melihat apakah dia belajar disekolah favorit atau pinggiran, karena pada hakikatnya tidak ada istilah tersebut, yang ada hanyalah sebuah tempat untuk menambah ilmu. Tak perlu merasa malu untuk menimba ilmu di sekolah favorit atau bukan, tapi malulah ketika kamu nila tidak dapat meraih cita-cita mu dengan semua ilmu yang telah kamu usahakan”, cuplikan tersebut adalah sepenggal kata dari sebuah cerita yang dia buat untuk selalu menyadarkan bahwa ilmu dapat di dapat dengan keinginan yang kuat. Bukan dengan predikat sebuah sekolah.
Benar saja, selama dia belajar disekolah tersebut, dia selalu mendapatkan pujian dari guru-guru karena selalu memenangkan lomba-lomba dan selalu mampu meraih peringkat paralel satu selama tiga tahun. Prestasinya sangat gemilang ketika SMA, begitu juga ketika SD dan SMP, dia selalu mendapatkan beasiswa dari sekolahnya karena prestasinya, dan itulah yang dia harapkan, dapat bersekolah gratis karena prestasi agar tidak menambah beban ekonomi keluarga.
Ujian nasional SMA telah tiba dan seperti biasa, nilainya jatuh lagi, seperti sebelum-sebelumnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena dia memandang bahwa ilmu adalah sebuah hal yang sangat mulia untuk didapatkan yang tidak boleh dikotori dengan perbuatan tercela sepeti menyontek. Karena ini ibunya sangat marah sebab dia mendapatkan nilai yang sangat jatuh. Ibunya mengatakan bahwa tidak ada sekolah vokasi manapun yang mau menerima lulusan SMA dengan nilai yang amat sangat buruk dan meskipun diterima, itu adalah dengan cara menyuap dan tentunya membutuhkan uang yang sangat banyak.

Hal ini sungguh membuat nila sedih, di satu sisi dia ingin mencari ilmu di perguruan tinggi negeri yang berbasis vokasi, akan tetapi di sisi lain dia juga berfikir bahwa tidak mungkin ada PTN yang mau menerimanya kecuali dengan menyuap, dan menyuap itu adalah hal yang sangat tidak baik menurutnya, juga akan menghabiskan biaya yang begitu besar dan dia tak memiliki cukup banyak uang. Dia lebih baik tidak diterima di PTN manapun daripada menyuap.



Apa Kisah Selanjutnya???

Lanjutkan bacaan di atas hanya dengan memesan buku saku 'Kisah-Ku Menaklukan Perguruan Tinggi'

Dalam waktu sekejap, anda bisa membaca lanjutan kisah di atas bersama kisah inspiratif pejuang perguruan tinggi dari penulis nusantara.




-Penerbit Sinar Gamedia-
Bagaimana caranya tulisan Anda masuk website Sinar Gamedia?
ini Jawabannya....

Kirimkan dan Bagikan tulisan anda berupa Puisi, Cerpen, Pantun, Artikel Islam, Artikel Permasalahan Wilayah dan Kota, Artikel Keilmuan, dan Kisah Inspiratif.
Kirim Ke email: sinar.gamedia@gmail.com
1. lampirkan naskah tulisan anda
2. kirimkan foto anda
3. kirim dengan format : Nama Lengkap_Jabatan (Mahasiswa, Pegawai, dll)_Jenis Tulisan ( Puisi, Cerpen, Pantun, Artikel Islam, Artikel Permasalahan Wilayah dan Kota, Artikel Keilmuan, dan Kisah Inspiratif

0 comments:

Post a Comment

Profil Sinar Gamedia

Popular Posts

Statistik Pengunjung