Tuesday, December 22, 2015



                                                         Oleh: Choirul Azmi
                            (Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga Surabaya)



Rembulan, bentukmu tak utuh, bulat
Namun, begitu indah kala bersama
Bersama dengan, Jutaan bintang yang menghiasi panggung malam
Yang menyimpan sejuta misteri

Kini sang surya mengintip perlahan
Tawa renyah, canda dan gurau bintang gemintang dengan rembulan
Tersadar, rembulan dengan wajah terlipat
Bak kertas origami mainan anak
Berjalan lunglai meninggalkan pesta bersama jutaan bintang

Matahari menaiki singgahsananya
Setelah berhasil menggeser rembulan yang diamatinya
Cahayanya, berpendar perlahan
Membawa sensasi yang ter-idamkan
Kala musim dingin datang membunuh perlahan

Terkapar lemah
Tak berdaya
Sebatang kara
Terkulai diatas tumpukkan kertas-kertas berita
Wajah mungil, pejuang mimpi-mimpi gila

Cahaya matahari mengusap lembut kulit kasarnya
Yang Terbakar oleh perjuangannya
Yang memahami hidup tanpa seorang sosok tercinta
Yang mengajari kehidupan sesungguhnya

Biru langit maupun hitam
Tipis maupun tebal awan
Menjadi atapnya untuk menjalani kehidupan
Kehidupan keras yang menghamtam
Jiwa dan raga dengan dalam

Terjal batuan
Licin lumut-lumut galau terguyur hujan
Dan hitam aspal kasar bumi pertiwi di sepanjang jalan
Menjadi lantai
Lantai dia memaknai segenap kehidupan yang penuh misteri

Alam, sahabat terbaik
Tak berdusta dan beri pengalaman emas
Guna mengarungi kerasnya hidup
Hidup dalam tirani individualisme, Kapitalisme, Liberalisme
Merkantilisme serta koloniasme
Yang berangkat lebih dahulu darinya

Hatinya bagai batu karang
Yang tak hancur oleh deraian ganas ombak lautan
Tak goyah dan mundur karena perkara
Namun, lembut dan bisa mencair
Laksana es yang mencair oleh matahari
Ketika pintu-pintu terketuk oleh masalah social
Simpati dan empati


Siang hari dia berlari
Kesandung, kesampar, terjerembab dalam jurang
Bangkit, bangun dan terus berlari
Meski darah mengucur dari setiap pori-pori
Namun tak terhiraukan olehnya

Malam, dijadikan olehnya
Untuk bersenggama dengan sahabat yang tak menghianatinya
Memberi apa yang dia pinta
Tanpa rasa ingin terbalas olehnya

Hingga masa datang
Menyingkirkan kemunafikan naskah-naskah dunia
Untuk jalanya yang tertatih
Menuju jalan yang mulus, bak pipi gadis
umur 17 tahun

Di kejayaan, bersama dengan yang lain 


(Asrama Ikhwan Beastudi Etos Surabaya, 2015)


-Penerbit Sinar Gamedia-
Bagaimana caranya tulisan Anda masuk website Sinar Gamedia?
ini Jawabannya....

Kirimkan dan Bagikan tulisan anda berupa Puisi, Cerpen, Pantun, Artikel Islam, Artikel Permasalahan Wilayah dan Kota, Artikel Keilmuan, dan Kisah Inspiratif.
Kirim Ke email: sinar.gamedia@gmail.com
1. lampirkan naskah tulisan anda
2. kirimkan foto anda
3. kirim dengan format : Nama Lengkap_Jabatan (Mahasiswa, Pegawai, dll)_Jenis Tulisan ( Puisi, Cerpen, Pantun, Artikel Islam, Artikel Permasalahan Wilayah dan Kota, Artikel Keilmuan, dan Kisah Inspiratif


1 comment:

  1. subhanallah, mengecam sunyi dalam hati membasmikan kehidupan yang selalu sunyi. terima kasih wahai saudaraku, etoser surabaya :-)

    ReplyDelete

Profil Sinar Gamedia

Popular Posts

Statistik Pengunjung